Sabtu, 13 Desember 2014

Kamis, 07 Agustus 2014

Minggu, 20 Juli 2014

Jumat, 27 Juni 2014

sebentar lagi kelar

yess

ok

lanjut

TUHAN LEBIH TAHU



TUHAN LEBIH TAHU

Perempuan itu bernama Azizah. Sewaktu gadis dia punya tunangan seorang pemuda yang cakap, namanya Abbas. Percintaan mereka sudah berlangsung lama, dan masing-masing sudah siap untuk melaksanakan pernikahan. Namun orang tua Azizah kurang setuju karena Abbas pemuda yang belum punya pekerjaan tetap. Mereka menginginkan punya menantu yang bisa menyokong hidup mereka, paling tidak bisa membantu sedikit-sedikit.
         Sedih benar Aziza memikirkan halangan itu. Abbas bukannya tidak mau mencari pekerjaan, tapi memang nasibnya yang belum baik. Di kota Baghdad yang begitu berjubel, tidak ada sebuah toko pun yang mau menerimanya. Padahal Azizah, dan juga Abbas sendiri, rajin bangun tengah malam, bersembahyang dan berdoa. Azizah minta kepada Tuhan agar dilunakkan hati orang tuanya, dan juga berdoa agar kekasihnya segera mendapatkan mata pencaharian yang layak. Demikian pula Abbas.
         Namun agaknya doa ini belum mendapatkan ijabah dari Yang Kasa. Bahkan pada suatu hari bulan DzulHijjah, tanpa setahu gadis itu, orang tuanya telah menerima lamaran seorang saudagar tua. Alangkah kaget dan sakitnya hati Azizah mendengar berita itu. Segera ia lebih tekun bangun malam, lebih khusyuk dalam berdoa. Dia memohon kepada Tuhan supaya saudagar tua itu mengurungkan niatnya.
         Masih saja doa Azizah belum terkabul. Bahkan saudagar tua itu minta supaya perkawinan dilangsungkan lebih cepat, karena ia ingin membawa istrinya ke Bahran untuk berniaga. Maka dalam tempo seminggu Azizah telah menjadi istri Abdullah. Cuma agak terobati hati Azizah, ketika ternyata bahwa suaminya bukanlah seorang saudagar yang tua umurnya, melainkan tua pengalamannya. Abdullah masih sebaya dengan Abbas kekasihnya itu.
         Selesai upacara perkawinan yang dilangsungkan dengan meriah itu, berangkatlah pengantin baru tersebut menuju Bashrah membawa kafilah yang panjang. Bahagia hidup Azizah, bersama suaminya yan gpenyayang itu.
         Tidak berapa lama sesudah kepindahan mereka ke negeri baru itu. Azizah mendengar berita dari orang tuanya bahwa Abbas, bekas tunangannya ditangkap penguasa karena ternyata Abbas yang kelihatannya halus itu adalah perampok ulung. Kalau malam-malam dia bangun bukan untuk bersembahyang seperti yang dibualkannya kepada Azizah, melainkan menyatroni kafilah atau pedagang yang lewat di tempat sepi. Adapun siang harinya bukannya sibuk mencari pekerjaan, tapi sebetulnya bermain judi seharian. Sehingga betapapun besarnya hasil rampokan, semuanya ludes di meja perjudian.
         Demikianlah akhirnya Azizah hidup senang selama bertahun-tahun. Anaknya sudah banyak orang tuanya sudah meninggal dengan tenang. Dan suaminya, Abdullah, sebulan yang lalu juga telah menghembuskan napasnya yang terakhir dalam usia 65 tahun, meninggalkan seorang anak bungsu yang baru berumur 12 tahun. Betapa sedihnya hati Azizah, mengingat suaminya adalah lelaki yang setia dan penyayang. Berhari-hari lamanya ia terus mencucurkan air mata, sementara badannya sendiri juga mulai sakit-sakitan. Telah banyak tabib yang dipanggilnya, namun penyakit itu masih suka kambuh. Urusan perdagangan almarhum suaminya diteruskan oleh anaknya yang sulung, dan ternyata perdagangannya masin bertambah besar. Kekayaannya makin meingkat dari waktu ke waktu.
         Cuma, kalau datang lagi penyakitnya, Azizah jadi sangat khawatir kalau-kalau ia meninggal dalam umur yang belum begitu tua. Maka makin rajinlah ia bangun sembahyang malam, makin rajin menengadahkan tangan ke atas meminta kurnia Allah. Dalam doanya seolah-olah dia mengajukan tuntutan kepad Tuhan. “Ya Allah, Kamu menjamin dalam firman-Mu bahkan Kau mengabulkan doa hamba-Mu. Selama ini doaku selalu Kautolak meskipun kupanjatkan dengan khusyuk dan patuh. Maka sekali ini kumohon kepada-Mu, kabulkanlah doaku. Jangan cabut nyawaku buru-buru, panggillah aku ke khadirat-Mu kalau aku sudah tua kelak. “Berdesis angin malam yang dingin menyambut doa hamba Allah yang taat itu.
         Besok paginya tiba-tiba datang beranda rumah Azizah seorang nenek yang sudah sangat tua. Hati Azizah berkata kepada Tuhan, “Panjangkanlah umurku seperti nenek itu. “Kemudian dipanggilnya nenek tua yang datang hendak mengemis itu untuk mendekat. Dengan hormat dipersilahkannya nenek itu duduk. Bujangnya disuruhnya menyiapkan makanan yang lezat-lezat untuk disajikan bagi nenek itu. Dengan mata yang berkilat-kilat nenek itu sangat senang nampaknya. Namun alangkah kagetnya Azizah melihat ulah si nenek. Tanganya sangat gemetar waktu mengangkat sendok, dan makanan itu bukannya dimasukkan ke mulut, melainkan berhamburan ke mata dan hidungnya. Begitulah berlangsung beberapa kali sampai makanan yang di piring habis. Setelah itu nenek tersebut bangun. Dan di tempat nenek bertumpuk kotoran yang berlepotan ke kainnya.
         Maka Azizah berteriak dalam hatinya, “Ya Tuhan, ternyata umur terlalu tua tidak enak. Kubatalkan doaku yang dahulu, ya Allah.”
         Seketika itu juga nenek tadi tersenyum kepada Azizah dan berkata, “Itulah bukti bahwa Tuhan pemurah kepadamu. Tidak berarti bahwa doa yang tidak dikabulkan adalah tanda ketidakadilan Tuhan. Aku adalah Izrail, yaitu hari ini bertugas untuk memanggilmu menuju keindahan dan kenikmatan yang lebih abadi daripada yang kaurasakan sekarang.”
         Maka tutup usialah Azizah pada hari itu dengan tenang dan bahagia, dalam umur yang cukup panjang untuk menikmati kesenangan, tetapi belum cukup lama merasakan penderitaan.

MENGHADAPI MANUSIA YANG BERBEDA-BEDA



MENGHADAPI MANUSIA YANG BERBEDA-BEDA

Nabi Muhammad saw, sedang mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Ketika ia sedang sujud, cucunya yang masih kecil, hasan, menaiki punggungnya dan bermain kuda-kudaan di atasnya sambil memukul-mukul tubuhnya seperti memacu kuda biar larinya cepat.
         Nabi sudah lama di dalam sujud, tapi ia memperpanjang sujudnya sembari menunggu cucunya puas bermain kuda-kudaan. Tatkala Hasan baru saja turun dan Nabi hendak bangun dari sujud, Husain, adik Hasan, tidak mau kalah dari abangnya. Ia pun segera melompat menduduki punggung Nabi dan bermain keuda-kudaan meniru Hasan. Nabi menunggu dulu hingga Husain turun dari punggungnya, barulah ia duduk tasyahud.
         Pada saat yang lain Nabi sedang membaca khutbah Jumat di mimbar. Kedua cucunya yang ikut shalat di masjid tiba-tiba menangis, nabi turun dari mimbar di tengah-tengah khutbahnya mendtangi Hasan dan Husain, dan membujuk mereka supaya diam melalui isyarat dan sikap kasih sayangnya.
         Sesudah kedua cucu itu tenang kembali, barulah Nabi naik lagi ke mimbar dan melanjutkan khutbahnya sampai selesai. Ia selalu membaca khutbah lebih pendek dibandingkan dengan sembahyangnya.
         Pada hari yang lain  Nabi berjumpa dengan seorang Baduy gunung. Orang A’rabi hitam itu mengaku sudah memeluk agama Islam, dan sudah mengerjakan ibadah.
         Nabi bertanya,”Jadi engkau beriman bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?”
         “Saya percaya,”jawab Badui.
         “Kamu tahu, di manakah Allah bertempat tinggal?” tanya Nabi menguji.
         “tahu,” sahut Badui tegas.
         “Di mana?”
         “ Di sana, di puncak gunung,” ujar Baduy tanpa ragu-ragu.
         Nabi diam dan menghormati orang Baduy itu baik-baik, tanpa menyanggah sepatah pun ucapannya tadi. Sebab, menurut hemat Nabi, baru sebatas itulah tingkat kemampuan akal baduy kampung tersebut.
         Manakala Mekah sudah ditaklukkan dan orang-orang Quraisy ketakutan, Nabi beserta sepuluh ribu sahabatnya memasuki kota suci itu dengan damai; toh orang-orang musyrik tidak ada yang berani menampakkan hidung. Di antara yang paling terpukul adalah keluarga Abu Sufyan, selaku pemimpin besar kaum kafir dan bangsawan yang dihormati. Ia biasa disanjung-sanjung dan dielu-elukan sebagai pahlawan yang gagah berani. Hari itu hancurlah semua nama besarnya, bila ia harus takluk sebagai pecundang.
         Untuk Nabi cepat tanggap dan bijaksana. Ia segera mengeluarkan pengumuman ditujukan kepada segenap penduduk Mekah. Isi pengumuman itu antara lain:
         “Barangsiapa masuk ke dalam masjidil Haram, dia akan dilindungi. Barangsiapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia akan dilindungi.
         Betapa bangganya Abu Sufyan mendengar pengumuman itu. Berarti rumahnya bagaikan disamakan kedudukannya dengan Masjidil Haram. Oleh sebab itu, ia tidak kehilangan muka ketika kemudian memeluk agama Islam. Apalagi anaknya, yang juga akhirnya masuk Islam, Muawiyah bin Abu Sufyan, beberapa waktu setelah itu diangkat menjadi salah seorang pencatat wahyu oleh Nabi saw.
         Sejak saat itu orang-orang musyrik berduyun-duyun menyatakan keislaman mereka. Tetapi ada seorang panglima Quraisy yang hingga beberapa lama tidak mau menjadi muslim. Ketika ditanya oleh Nabi, orang itu, Sofwan bin Umayyah, berkata, “Berilah saya waktu seminggu untuk berpikir, apakah mau masuk Islam atau tidak.”
         Nabi menjawab, “Jangan seminggu.”
         Sofwan terkejut, “Apakah seminggu terlalu lama?”
         “Tidak, “sabda Nabi. “Terlalu singkat. Kuberi engkau waktu selama dua bulan, apakah akan bersyahadat atau tidak. Pikirkanlah dengan leluasa dan luas. Sebab agama Islam adalah agama bagi orang-orang yang berakal dan menggunakannya untuk berpikir. Tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki akal.”

YANG BERJUBAH BELUM TENTU SALIH



YANG BERJUBAH BELUM TENTU SALIH
        
Tatkala Nabi Daud sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud, tetapi Nabi Daud tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia terus menyampaikan pelajarannya tanpa melirik sedikit pun kepada tamu yang baru tiba itu.
         Laki-laki tersebut lantas mengerjakan sembahyang sesuai dengan syariat yang berlaku pada waktu itu. Setelah melaksanakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa.
         Nabi Daud tetap melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberi kesempatan kepada tamu itu untuk berkenalan, atau para muridnya mengambil perhatian kepadanya. Semua murid Nabi Daud merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap Nabi Daud tidak memberikan contoh yang baik.
         Pria berjubah bersih tersebut terdengar menangis tersedu-sedu ketika berdoa. Sesudah itu ia berdiri, lalu keluar dari sinagog tempat peribadatan mereka setelah meminta diri dengan mengucapkan salam. Namun Nabi Daud tetap tidak menaruh hormat sama sekali. Semua murid Nabi Daud sangat iba melihat nasib tamu yang malang barusan.
         Maka sesudah Nabi Daud mengakhiri pelajaran tentang akhlak yang baik, salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan.
         “Wahai Nabiyullah. Saya ingin bertanya.”
         “Tanyalah,’ jawab Nabi.
         “Bukankah engkau mengajarkan kepada kami untuk menghormati tamu?”
         “Betul.”
         “Tetapi mengapa engkau tadi tidak memperlihatkan akhlak terpuji kepada tamu?”
         “Sebab dia tidak tahu budi pekerti. Apakah kalian tidak ingat bagaimana caranya memasuki majelis tatkala guru sedang mengajar? Mula-mula kaki kanan melangkah lebih dulu sebagai tanda menghormati sinagog kita. Kemudian tidak seharusnya dia mengucapkan salam, melainkan langsung duduk dan ikut mendengarkan.”
         “Barangkali dia belum tahu tata caranya?”
         “Tapi jubah dan surbannya menunjukkan seolah-olah dia orang alim, bukan? Apakah kalau dia orang alim tidak mengetahui sopan santun memasuki tempat peribadatan dan tempat mengajar?” sanggah Nabi Daud. “Orang seperti itulah yang akan menjatuhkan agama kita, karena tidak sesuai antara penampilan dengan sikapnya.”
         “Tapi tadi dia sembahyang lama sekali,” sahut si murid.
         “Itulah tanda kepalsuannya. Ia hanya ingin memamerkan kesalehannya, padahal dia bukan orang baik. Ia sembahyang buat kita, tidak buat Tuhan.”
         “Ia berdoa panjang sambil menangis.”
         “Apakah doa yang panjang menjamin keikhlasan? Bukankah Tuhan lebih menyukai doa yang khusuk dan Yakin? Kalau ia ingin menangis, tidak selayaknya di depan kita. Menangislah yang sedih di depan Tuhan ketika sendirian, dalam sembahyang malam pada waktu orang lain tengah lelap dan tidak melihat tangisnya.
         “Wajahnya mulus sekali seperti orang yang ikhlas. Pakaiannya serba putih melambangkan warna hatinya. Apakah ia bukan orang yang takwa?”
         “Takwa tidak dilihat dari rupanya, juga tidak dilihat dari pakaiannya. Tuhan hanya melihat hati manusia, dan dinilai dari perbuatannya, sesuai atau tidak dengan syariat dan adab agama. Manusia tidak dihargai dari bungkusnya, melainkan dari isinya, dari mutu kemanusiaannya.”
         Dengan penjelasan tersebut mengertilah murid-murid Nabi Daud bagaimana seharusnya menghayati agama dengan menjalankan semua ketentuannya, tidak sekadar membangga-banggakan melalui ucapan dan pernyataan.

30 KISAH TELADAN 2



TIADA KEJAHATAN YANG TAK BERBALAS

Seorang penunggang kuda yang masih muda belia tampak begitu kelelahan dan kehausan, maka, tatkala tiba di suatu wadi yang bening airnya dengan tanaman rindang di seklilingnya, penunggang kuda itu menghentikan kudanya dan turun di tempat tersebut.
         Ia berbaring, lalu meletakkan sebuah bungkusan di sampingnya. Matahari sangat terik, namun di situ amat teduh, sehingga tanpa sengaja ia tertidur pulas. Ia tidur lelap setelah memuaskan dahaganya dengan minum air bening di wadi tersebut.
         Ketia ia terjaga, matahari mulai condong. Ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit keras. Nampaknya ia anak orang yang kaya-raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah dan kudanya yang mahal.
         Pemuda itu terkejut sekali menyadari hari telah menjelasng sore. Dengan tergesa-gesa. Ia melompat ke punggung kuda. Bungkusannya tertinggal sebab ia hanya berpikir untuk segera tiba di rumah, menunggui ibunya yang sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal, dibunuh orang beberapa tahun berselang.
         Tidak lama setelah ia meninggalkan tempat tersebut, seorang pengembala lewat di tempat itu. Ia terkesima melihat ada sebuah bungkusan kain tergeletak di bawah pohon. Diambilnya bungkusan itu, lalu dibawanya pulang ke gubuknya yang buruk. Alangkah gembiranya hati si anak gembala tatkala melihat bungkusan itu berisi emas dan permata yang pasti amat berharga. Ia yatim piatu dan masih kecil sehingga penemuan itu dianggapnya merupakan hadiah baginya.
         Ketika tempat tadi sudah sepi, seorang kakek yang bungkuk berjalan terseok-seok melalui wadi tersebut. Karena capek, ia pun duduk beristirahat di bawah pohon yang rimbun. Belum sempat ia melepas lelah, anak muda penunggang kuda yang tertidur tadi datang kembali hendak mengambil bungkusannya yang tertinggal. Ia memacu kudanya seperti kesetanan agar belum ada orang yang menemukan miliknya.
         Tatkala ia sampai, alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat bahwa di bawah pohon tempatnya beristirahat tadi kini terdapat seorang kakek. Dan ia lebih terperanjat lagi ketika dilihatnya bungkusan kainnya sudah lenyap dari situ.
         Maka pemuda itu dengan suara keras bertanya kepada si kakek, “Mana bungkusan yang tadi di sini?”
         “Saya tidak tahu, “jawab kakek dengan gemetar.
         “Jangan bohong!” bentak si pemuda.
         “Sungguh, waktu saya tiba di sini, tidak ada apa-apa kecuali kotoran kambing.”
         “Kurang ajar! Kamu sudah tua, bukan? Mau mempermainkan aku? Pasti engkau yang mengambil bungkusanku dan menyembunyikannya di suatu tempat. Ayo, kembalikan! Bungkusan itu baru kuambil dari kawan ayahku sebagai warisan yang dititipkan ayahku kepadanya untuk diserahkan kepadaku kalau aku sudah dewasa, yaitu sekarang ini. Kembalikan!”
         “Sumpah, Tuan, saya tidak tahu.” Sahut kakek tersebut makin ketakutan.
         “Kurang ajar! Bohong! Ayo, serahkan kembali. Bila tidak, tahu rasa nanti,” hardik si pemuda tambah berang.
         Karena kakek itu tidak tahu apa-apa, maka ia tetap bersikeras bahwa ia tidak melihat bungkusan tersebut, ia tidak mengambil atau menyembunyikan bungkusan mahal itu.
         Si pemuda makin berang dan tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Dicabutnya sebilah pedang pendek dari pinggangnya, dan kakek tadi dibunuhnya dengan darah dingin. Lantas, sesudah dicarinya ke sana kemari tidak ditemukannya juga, ia pun melompat ke atas kudanya dan memacunya menuju ke kampung halamannya. Hatinya mendongkol, marah dan kecewa.
         Berita ini ditanyakan kepada Nabi Musa oleh salah seorang muridnya:
         “Wahai, Nabiyullah. Bukankah cerita tersebut justru menunjukkan ketidakadilan Tuhan?”.
         “Maksudmu?” tanya Nabi Musa.
         “Kakek itu tidak berdosa, tetapi harus menanggung malapetaka yang tidak patut diterimanya. Sedangkan si anak gembala yang mengantungi harta itu malah bebas, tidak mendapatkan balasan setimpal.”
         “Tuhan tidak adil?”, ucap Nabi Musa terbelalak.” Masya Allah. Dengarkan baik-baik latar belakangnya. Tanpa setahu yang mengalami peristiwa tersebut, sebenarnya rentetan kejadian itu adalah bukti keadilan Tuhan dalam membalas perbuatan hamba-Nya.”
         Kemudian Nabi Musa pun berkisah:
         “Ketahuilah, dahulu ada seorang petani hartawan dirampok semua perhiasan dan harta benda miliknya oleh dua orang bandit kejam. Setelah berhasil, dalam membagi harta rampokan itu terjadilah kecurangan. Salah seorang bandit itu sangat tamak, sehingga harta rampasan tersebut dikuasainya sendiri. Maka bandit yang kedua pun menjadi marah dan dendam, sehingga pada suatu hari bandit yang serakah itu dibunuh kawannya. Dia adalah kakek bungkuk yang dibantai oleh penunggang kuda itu. Dan siapa pula bandit pertama yang dibunuh? Ia adalah ayah dari pemuda yang membunuh si akek. Di sini berarti nyawa dibayar dengan nyawa. Adapun petani hartawan yang hartanya dikuras oleh kedua bandit tersebut adalah ayah dari anak yatim piatu yang mengambil bungkusan kain tadi. Itulah keadilan Tuhan juga. Harta kekayaan telah kembali kepada yang berhak, dan kejahatan kedua bandit tersebut telah memperoleh balasan yang  setimpal. Meskipun peristiwanya tidak berlangsung tepat pada saatnya, namun toh sesuai dengan kejahatan mereka?’